Senin, 26 April 2021

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (PPGP)


Sebelum saya mempelajari pemikiran-pemikiran KI Hadjar Dewantara tentang pendidikan, sebagai guru bimbingan konseling (konselor) saya beranggapan telah melaksanakan tugas membimbing peserta didik mencapai tugas-tugas perkembangannya dengan baik, sesuai dengan program bimbingan konseling yang saya susun berdasarkan instrumen kebutuhan masalah. Instrumen kebutuhan masalah ini menjadi hal yang utama bagi saya tampa menyadari perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. 
Setelah mempelajari konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya merubah paradigma berfikir saya bahwa ada dan digunakannya instrumen (tes.inventori,angket dan  sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Ketiadaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. Oleh sebab itu, sebagai konselor saya hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal dengan memperhatikan trilogi pendidikan " Ingarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tutwuri Handayani " sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan.

Gagasan Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang berorientasi pada peserta didik sangat relevan dengan tujuan layanan bimbingan kinseling di sekolah yaitu Guru BK (konselor) khususnya harus berupaya sungguh-sungguh memahami seutuhnya peserta didik, lahir dan batinnya. Hal ini, tidak lain agar layanan bimbingan konseling yang diberikan kepada peserta didik dapat disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang melekat pada peserta didik dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yakni mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Sebelum  mempraktikkan  gagasan Ki Hajar Dewantara  di ruang kelas / ruang BK, dalam waktu dekat hal pertama yang akan saya lakukan adalah menyebarkan gagasan KHD dan koneksinya dengan program bimbingan konseling  kepada pimpinan sekolah dan  rekan-rekan guru yang lain di sekolah tempat saya mengajar melalui berbagai pendekatan, baik personal maupun komunitas serta  melalui berbagai media baik lisan, tulisan, video, maupun infografis. Hal ini dalam rangka mencari dukungan dan mempersiapkan ekosistem sekolah dalam rangka persiapan mempraktikkan gagasan KHD di ruang-ruang kelas.  Setelah itu, khusus untuk layanan Bimbingan Konseling, saya akan  mendesain layanan yang berbasis aktivitas peserta didik  dengan mengoptimalkan keterampilan pribadi saya sebagai konselor dan  menerapkan trilogi pendidikan Ki Hadjar Dewantara secara proporsional dalam program layanan bimbingan konseling.

Media BK