
Dalam Modul 3.I ini, pembahasan dipertajam kepada keberhasilan seorang pemimpin pembelajaran dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan oleh murid. Disini dibahas secara mendalam, baik itu berupa refleksi pribadi ataupun mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif. Kegiatan-kegiatan berupa tugas mandiri atau tugas kelompok, selanjutnya CGP diminta untuk mempraktikkan aspek-aspek apa saja yang perlu dilakukan atau diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan dibuat. CGP diajak untuk memutuskan berbagai studi kasus dilema etika berdasarkan 4 (empat) paradigma serta mendalami kecenderungan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang melandasi cara berpikir selama ini, yang berakibat kepada pengambilan keputusan yang ditentukan.
Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Ing Ngarso Sung Tuladha (Di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (Di tengah membangun semangat), Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dukungan) yang merupakan filosofi pratap triloka berarti bahwa guru perlu mempertimbangkan banyak hal jika akan membuat keputusan dalam pembelajaran, karena keputusan yang diambil akan diteladani oleh murid. Teladan yang ditunjukkan oleh guru pada akhirnya akan memotivasi murid dalam pengambilan keputusan bagi drinya dan selanjutnya guru akan senantiasa memberi dukungan pada setiap keputusan-keputusan baik yang dambil oleh murid.
Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi pembelajaran yang positif bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Secara umum nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam diri seorang guru terdapat nilai berupa nilai kebaikan, tanggung jawab, kejujuran, gotong-royong, disiplin dan nilai lainnya sangat berpengaruh dalam prilaku khususnya dalam pengambilan suatu keputusan. Saat menghadapi situasi dilema etika (benar Vs benar) akan ada nilai-nilai kebaikan yang saling bertentangan seperti kasihan, keadilan, kesetiaan, toleransi dan tanggungjawab. Begitupula jika kita berhadapan dengan situasi bujukan moral (benar Vs salah). Untuk dapat mengambil keputusan yang efektif diperlukan nilai-nilai, prinsip dan pendekatan yang sesuai sehingga keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang paling tepat dan baik bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan murid.
Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, murid harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajar di kelas yang merupakan dilema bagi mereka, di sinilah pentingnya pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh siswa untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dialaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Kita semua memahami jika murid kertas kosong. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas guru adalah menjadikan latar belakang mereka sebagai pondasi kuat bagi guru dalam memimpin pembelajaran. Selain itu, guru juga bertugas meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi mereka. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan murid untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi mereka.
Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Coaching diperlukan karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan arahan dari guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk berupaya membantu permasalahan murid secara langsung dengan memberikan solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka.
Bagaimana pembahasan studi kasus
yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut
seorang pendidik.
Etika terkait dengan karsa karena
manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang
saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran
moral. Sebagai seorang pendidik,kemampuan mengidentifikasi kasus untuk
menentukan apakah kasus tersebut dilema etika atau bujukan moral sehingga guru
dapat bersikap reflektif, kritis,
kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut.
Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat
sebagai pemimpin pembelajaran akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman sebag pengambilan keputusan tersebut melalui proses mengidentifikasi jenis-jenis
paradigma dilema etika yang dihadapi maupun yang dihadapi orang lain membuat
kiata mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis
dilema tersebut. Hal ini menghasilkan keputusan yang berpihak pada semua orang
tampa ada yang dirugikan.
Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
- Sulitnya merubah cara berpikir orang lain dalam memandang kasus dilema etika. Untuk bisa menghasilkan keputusan yang tepat, tentu kita harus memiliki dasar pengetahuan bagaimana mengambil keputusan, prinsip ataupun paradigma apa yang digunakan dan juga bagaimana menguji ketepatan keputusan kita agar kita dapat memastikan apakah keputusan itu efektif atau tidak, kesulitannya adalah merubah cara pandang mengenai prinsip pengambilan keputusan ini,sehingga bisa searah dalam pengambilan keputusan.
- Paradigma berpikir setiap orang yang berbeda dan begitu juga dengan skala prioritas sehingga sulit bagi kita juga dalam mengambil keputusan yang bisa dipahami dan diterima semua orang.
- Bagaimana mengakomodasi nilai budaya di lingkungan dalam keputusan yang di ambil sehingga bisa menghasilkan keputusan yang tentunya tepat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral umum.
Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Keputusan tersebut pada akhirnya memberikan murid kepercayaan diri untuk mencapai tujuan terbaik dalam tahapan belajarnya.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Jika seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan dengan tepat maka murid akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan dalam menentukan bagi masa depan mereka. Kelak Insya Allah mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya memiliki koneksi yang tidak terpisahkan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila dalam suasana merdeka belajar, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu, dalam proses pembelajaran seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada murid dengan mengelola kompetensi sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal ini merupakan salah satu teknik bagi pendidik agar dapat mengetahui permasalahan yang dialami oleh murid lewat identifikasi masalah dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak, juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dan warga ekolah lainnya serta dapat menjadi coach bagi mereka dalam membantu menemukan solusi dari masalah melalui optimalisasi potensi diri yang dimilki. Dengan demikian maka terciptalah kolaborasi dalam komunitas praktisi dan pengembangan budaya positif pada lingkungan belajar di sekolah.