Senin, 27 September 2021

Modul 3.1.a.10. Aksi Nyata

 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran


Facts (Peristiwa)

  • Latar belakang situasi yang dihadapi

Sebagai sekolah penggerak, salah satu program nasional yang akan dilaksanakan pada sekolah kami yaitu Program Anti Perundungan (Roots Indonesia). Setelah melalui tahapan Bimtek untuk  2 orang fasilitator guru yang dilaksanakan secara Daring oleh Pusat Pengembangan Karakter (PUSPEKA) Kementrian Pendidikan Riset dan Tekhnologi, maka kegiatan akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Bimtek bagi 30 murid calon agen perubahan di tingkat sekolah. Rekruitmen terhadap 30 murid ini dilaksanakan melalui u-report dan atau poling dengan menggunakan google formulir yang dibagikan kepada seluruh murid di sekolah dengan mengisi instrumen yang memuat pertanyaan/pernyataan tingkat relasi atau populer dari murid berdasarkan kemampuannya dalam membewa pengaruh positif bagi teman di sekolah. Setelah mendapatkan hasil 30 calon agen perubahan, maka disusun jadwal untuk pelaksanaan Bimtek calon agen perubahan program Roots Indonesia bagi murid terpilih di SMP Negeri 1 Marioriwawo (selama 10 kali pertemuan tatap muka). Masalah kemudian muncul ketika harus menentukan pelaksanaan kegiatan moda daring atau luring. RAB yang direncanakan di awal adalah kegiatan direncanakan dilaksanakan secara luring/tatap muka. Namun sampai pada jadwal yang sudah ditentukan kondisi pembelajaran masih berlangsung dalam moda daring. Panitia dihadapkan pada pilihan melaksanakan kegiatan sesuai Rencana awal tau merevisi menjadi moda daring. Mengingat belum adanya kepastian jadwal pembelajaran tatap muka.

  • Alasan mengambil keputusan tersebut

Setelah melalui rapat bersama diputuskan untuk melaksanakan kegiatan moda luring setelah vaksinasi murid dan izin tatap muka terbatas dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan, walaupun untuk itu jadwal semula harus direfisi. Pertimbangan lain dari saya sebagai fasilitator adalah dalam kegiatan Bimtek tersebut murid akan beraktifitas dalam 2 moda yaitu daring dan luring. Jika moda luring bimtek diberlakukan maka kendala jaringan kegiatan moda daring akan dapat ditangani oleh tersedianya jaringan internet yang memadai di SMP Negeri 1 Marioriwawo.

  • Hasil dari keputusan yang diambil
Hasil dari keputsan yang diambil yaitu :
- Program Roots yang pelaksanaannya direncanakan dalam moda luring pada minggu pertama bulan september 2021 akan direfisi jadwal pelaksanaannya hingga kegiatan vaksinasi bagi murid selesai dilaksanakan. 
- Disepakati kegiatan Roots akan mulai dilaksanakan pada tanggal 16 September 2021 
- Dengan pertimbangan lancarnya jaringan internet di sekolah sebagai fasilitator saya pun menyarankan kegiatan dilaksanakan luring.


Feeling  (Perasaan)

Dilema  etika yang saya rasakan ketika dan setelah menjalankan aksi nyata pada saat itu adalah pantia yang menghendaki pelaksanaan kegiatan Bimtek Calon Agen Prubahan (Roots Indonesia) sesuai jadwal yang ditentukan di awal dengan pertimbangan bisa dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Disisi lain beredar informasi bahwa jadwal pembelajara tatap muka dapat dilaksanakan setelah kegiatan vaksin bagi murid dilaksanakan. 
Sebagai fasilitator yang akan terlibat langsung dalam kegiatan saya merasa sangat senang dengan keputusan untuk melaksanakan kegiatan setelah vaksin bagi murid selesai walaupun harus merevisi rencana awal. Menurut saya dengan keputusan ini kesehatan dan keamanan murid serta kelancaran kegiatan dapat terjaga.

Fendings (Pembelajaran)

Pembelajaran dari kegagalan yang diperoleh setelah aksi nyata adalah setiap merencanakan program kegiatan di sekolah, akan dijumpai berbagai dilema etika yang berbeda-beda. Cara menanganinya pun tidak bisa disamakan sebab penyebab dan faktor pendukungnya juga berbeda. 
Dalam hal keberhasilan, diperoleh pembelajaran bahwa menyampaikan pendapat/pandangan kepada warga sekolah dengan memperhatikan beberapa aspek yang dapat diterima menjadi hal yang sangat mendukung pengambilan keputusan yang efektif untuk semua.


Future (Perasaan ke depan)

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dituntut mampu mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan dan keselamatan murid. Mengedepankan rasa perduli dan menerapkan nilai-nilai seorang guru secara konsisten, karena keputusan yang diambil akan berpengaruh pada tahap perkembangan murid selanjutnya sehingga membawa pengaruh besar pada masa depannya kelak. Keputusan efektif guru sebagai pemimpin pembelajaran akan menjadi teladan bagi murid. Untuk menjaga konsistensi pengambilan keputusan yang efektif, kedepannya akan terus menambah pengetahuan mengidentifikasi berbagai aspek dalam mengambil keputusan yang berhunbungan dengan peningkatan mutu pendidikan bagi murid.


LAMPIRAN (Dokumentasi kegiatan)

(Kegiatan BIMTEK bagi Fasilitator Progaram Roots)

(Kegiatan Vaksinasi Covid-19 bagi murid SMPN 1 Marioriwawo 
oleh Petugas Kesehatan)

(Pembukaan Kegiatan Bimtek Program Anti Perundungan/Roots 
SMPN 1 Marioriwawo)


(Melaksanakan tugas sebagai Fasilitator Program Anti Perundungan 
bagi 30 calon Agen Perubahan)



Sekian dan Terima Kasih
Salam dan Bahagia
















Senin, 13 September 2021

KONEKSI ANTAR MATERI - PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Dalam Modul 3.I ini, pembahasan dipertajam kepada keberhasilan seorang pemimpin pembelajaran dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu  keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan oleh murid. Disini dibahas secara mendalam, baik itu berupa refleksi pribadi ataupun mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif. Kegiatan-kegiatan  berupa tugas mandiri atau tugas kelompok, selanjutnya CGP diminta untuk mempraktikkan aspek-aspek apa saja yang perlu dilakukan atau diperhatikan sebelum dan sesudah pengambilan suatu keputusan dibuat. CGP diajak untuk memutuskan berbagai studi kasus dilema etika berdasarkan 4 (empat) paradigma serta mendalami kecenderungan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang melandasi cara berpikir selama ini, yang berakibat kepada pengambilan keputusan yang ditentukan.

Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?


Ing Ngarso Sung Tuladha (Di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (Di tengah membangun semangat), Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dukungan) yang merupakan filosofi pratap triloka berarti bahwa  guru perlu mempertimbangkan banyak hal jika akan membuat keputusan dalam pembelajaran, karena keputusan yang diambil akan diteladani oleh murid. Teladan yang ditunjukkan oleh guru pada akhirnya akan memotivasi murid dalam pengambilan keputusan bagi drinya dan selanjutnya guru akan senantiasa memberi dukungan pada setiap keputusan-keputusan baik yang dambil oleh murid.
Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi pembelajaran yang positif bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid  akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Secara umum nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam diri seorang guru terdapat nilai  berupa nilai kebaikan, tanggung jawab, kejujuran, gotong-royong, disiplin dan nilai lainnya sangat berpengaruh dalam prilaku khususnya dalam pengambilan suatu keputusan. Saat menghadapi situasi dilema etika (benar Vs benar)  akan ada nilai-nilai kebaikan yang saling bertentangan seperti kasihan, keadilan, kesetiaan, toleransi dan tanggungjawab. Begitupula jika kita berhadapan dengan situasi bujukan moral (benar Vs salah). Untuk dapat mengambil keputusan yang efektif diperlukan nilai-nilai, prinsip dan pendekatan yang sesuai sehingga keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang paling tepat dan baik bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan murid. 

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.


Dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, murid  harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajar di kelas yang merupakan dilema bagi mereka, di sinilah pentingnya pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh siswa untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dialaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Kita semua memahami jika murid  kertas kosong. Mereka datang dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas guru adalah menjadikan latar belakang mereka sebagai pondasi kuat bagi guru dalam memimpin pembelajaran. Selain itu, guru juga bertugas meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi mereka. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan murid untuk menemukan jati diri dan melejitkan potensi mereka.  

Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Coaching diperlukan karena murid kita adalah sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan dan arahan dari guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka. Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita tergoda untuk berupaya membantu permasalahan murid secara langsung dengan memberikan solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching, harapannya anak didik kita menjadi lebih terarah dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada akhirnya dapat meningkatkan potensi mereka.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.


Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Sebagai seorang pendidik,kemampuan mengidentifikasi kasus untuk menentukan apakah kasus tersebut dilema etika atau bujukan moral sehingga guru dapat  bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sebag pengambilan keputusan tersebut  melalui proses mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang dihadapi maupun yang dihadapi orang lain membuat kiata mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut. Hal ini menghasilkan keputusan yang berpihak pada semua orang tampa ada yang dirugikan.

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

  • Sulitnya merubah cara berpikir orang lain dalam memandang kasus dilema etika. Untuk bisa menghasilkan keputusan yang tepat, tentu kita harus memiliki dasar pengetahuan bagaimana  mengambil keputusan, prinsip ataupun paradigma apa yang digunakan dan juga bagaimana menguji ketepatan keputusan kita agar kita dapat memastikan apakah keputusan itu efektif atau tidak,  kesulitannya adalah merubah cara pandang mengenai prinsip pengambilan keputusan ini,sehingga bisa searah dalam pengambilan keputusan.
  • Paradigma berpikir setiap orang yang berbeda dan begitu juga dengan skala prioritas sehingga sulit bagi kita juga dalam mengambil keputusan yang bisa dipahami dan diterima semua orang.
  • Bagaimana mengakomodasi nilai budaya di lingkungan dalam keputusan yang di ambil sehingga bisa menghasilkan keputusan yang tentunya tepat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral umum.

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid  untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Keputusan tersebut pada akhirnya memberikan murid kepercayaan diri untuk mencapai tujuan terbaik dalam tahapan belajarnya.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Jika seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan dengan tepat maka murid akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan dalam  menentukan bagi masa depan mereka. Kelak Insya Allah mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.


Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir  modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya memiliki koneksi yang tidak terpisahkan untuk mewujudkan profil pelajar pancasila dalam suasana merdeka belajar, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya  sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu, dalam proses pembelajaran seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada murid dengan mengelola kompetensi sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang  membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal ini merupakan salah satu teknik bagi pendidik agar dapat mengetahui permasalahan yang dialami oleh murid lewat identifikasi masalah dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik  saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak,  juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dan warga ekolah lainnya  serta dapat menjadi coach bagi mereka dalam membantu menemukan solusi dari masalah melalui optimalisasi potensi diri yang dimilki. Dengan demikian  maka terciptalah kolaborasi dalam komunitas praktisi dan pengembangan budaya positif pada lingkungan belajar di sekolah.

Media BK