- Latar belakang situasi yang dihadapi
Sebagai sekolah penggerak, salah satu program nasional yang akan dilaksanakan pada sekolah kami yaitu Program Anti Perundungan (Roots Indonesia). Setelah melalui tahapan Bimtek untuk 2 orang fasilitator guru yang dilaksanakan secara Daring oleh Pusat Pengembangan Karakter (PUSPEKA) Kementrian Pendidikan Riset dan Tekhnologi, maka kegiatan akan dilanjutkan dengan pelaksanaan Bimtek bagi 30 murid calon agen perubahan di tingkat sekolah. Rekruitmen terhadap 30 murid ini dilaksanakan melalui u-report dan atau poling dengan menggunakan google formulir yang dibagikan kepada seluruh murid di sekolah dengan mengisi instrumen yang memuat pertanyaan/pernyataan tingkat relasi atau populer dari murid berdasarkan kemampuannya dalam membewa pengaruh positif bagi teman di sekolah. Setelah mendapatkan hasil 30 calon agen perubahan, maka disusun jadwal untuk pelaksanaan Bimtek calon agen perubahan program Roots Indonesia bagi murid terpilih di SMP Negeri 1 Marioriwawo (selama 10 kali pertemuan tatap muka). Masalah kemudian muncul ketika harus menentukan pelaksanaan kegiatan moda daring atau luring. RAB yang direncanakan di awal adalah kegiatan direncanakan dilaksanakan secara luring/tatap muka. Namun sampai pada jadwal yang sudah ditentukan kondisi pembelajaran masih berlangsung dalam moda daring. Panitia dihadapkan pada pilihan melaksanakan kegiatan sesuai Rencana awal tau merevisi menjadi moda daring. Mengingat belum adanya kepastian jadwal pembelajaran tatap muka.
- Alasan mengambil keputusan tersebut
Setelah melalui rapat bersama diputuskan untuk melaksanakan kegiatan moda luring setelah vaksinasi murid dan izin tatap muka terbatas dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan, walaupun untuk itu jadwal semula harus direfisi. Pertimbangan lain dari saya sebagai fasilitator adalah dalam kegiatan Bimtek tersebut murid akan beraktifitas dalam 2 moda yaitu daring dan luring. Jika moda luring bimtek diberlakukan maka kendala jaringan kegiatan moda daring akan dapat ditangani oleh tersedianya jaringan internet yang memadai di SMP Negeri 1 Marioriwawo.
- Hasil dari keputusan yang diambil
Hasil dari keputsan yang diambil yaitu :
- Program Roots yang pelaksanaannya direncanakan dalam moda luring pada minggu pertama bulan september 2021 akan direfisi jadwal pelaksanaannya hingga kegiatan vaksinasi bagi murid selesai dilaksanakan.
- Disepakati kegiatan Roots akan mulai dilaksanakan pada tanggal 16 September 2021
- Dengan pertimbangan lancarnya jaringan internet di sekolah sebagai fasilitator saya pun menyarankan kegiatan dilaksanakan luring.
Feeling (Perasaan)
Dilema etika yang saya rasakan ketika dan setelah menjalankan aksi nyata pada saat itu adalah pantia yang menghendaki pelaksanaan kegiatan Bimtek Calon Agen Prubahan (Roots Indonesia) sesuai jadwal yang ditentukan di awal dengan pertimbangan bisa dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Disisi lain beredar informasi bahwa jadwal pembelajara tatap muka dapat dilaksanakan setelah kegiatan vaksin bagi murid dilaksanakan.
Sebagai fasilitator yang akan terlibat langsung dalam kegiatan saya merasa sangat senang dengan keputusan untuk melaksanakan kegiatan setelah vaksin bagi murid selesai walaupun harus merevisi rencana awal. Menurut saya dengan keputusan ini kesehatan dan keamanan murid serta kelancaran kegiatan dapat terjaga.
Fendings (Pembelajaran)
Pembelajaran dari kegagalan yang diperoleh setelah aksi nyata adalah setiap merencanakan program kegiatan di sekolah, akan dijumpai berbagai dilema etika yang berbeda-beda. Cara menanganinya pun tidak bisa disamakan sebab penyebab dan faktor pendukungnya juga berbeda.
Dalam hal keberhasilan, diperoleh pembelajaran bahwa menyampaikan pendapat/pandangan kepada warga sekolah dengan memperhatikan beberapa aspek yang dapat diterima menjadi hal yang sangat mendukung pengambilan keputusan yang efektif untuk semua.
Future (Perasaan ke depan)
Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dituntut mampu mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan dan keselamatan murid. Mengedepankan rasa perduli dan menerapkan nilai-nilai seorang guru secara konsisten, karena keputusan yang diambil akan berpengaruh pada tahap perkembangan murid selanjutnya sehingga membawa pengaruh besar pada masa depannya kelak. Keputusan efektif guru sebagai pemimpin pembelajaran akan menjadi teladan bagi murid. Untuk menjaga konsistensi pengambilan keputusan yang efektif, kedepannya akan terus menambah pengetahuan mengidentifikasi berbagai aspek dalam mengambil keputusan yang berhunbungan dengan peningkatan mutu pendidikan bagi murid.
LAMPIRAN (Dokumentasi kegiatan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar