Rabu, 25 Agustus 2021

2.3.a.9. Koneksi Antar Materi (Nurauliyah-CGP.2-Kab.Soppeng)

 COACHING


Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Peran seorang coach di sekolah adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya. Hal ini berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi dalam pemenuhan kebutuham individu setiap murid yang melibatkan kemampuan sosial dan emosional.

Coaching membantu profesi guru dalam menjalankan pendidikan yang berpihak pada murid yang terkait dengan kemerdekaan belajar yang dirancang dengan pengintegrasian pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional, dimana coaching dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkan potensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilan coaching.  Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi.

Kompetensi dasar coach meliputi :

a.    Membangun dasar keterampilan coaching

b.    Membangun hubungan yang baik

c.     Keterampilan berkomunikasi

d.    Mampu memfasilitasi pembelajaran

Ke empat kompetensi dasar tersebut berkaitan erat dengan kemampuan  seorang guru dalam pengelolaan diri, kesadaran diri, kesadaran social , dan kesadaran bertanggung jawab yang merupakan bagian dari Pembelajaran social emosional.

Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif. Kemampuan berkomunikasi menjadi kunci dari proses coaching sebab pendekatan dan teknik yang dilakukan dalam coaching merupakan proses mendorong dari belakang sehingga coachee dapat menemukan jawaban dari apa yang dia temukan sendiri (Pramudianto, 2015),

Salah satu model coaching dalam konteks pendidikan yaitu model TIRTA


Pengintegrasian pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional yang  diimplementasikan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / Rencana Pelaksanaan Layanan BK sangat dipengaruhi oleh keberhasilan proses coaching. Dimana dalam proses coaching  masalah-masalah pembelajaran atau masalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran yang dapat menurunkan potensi murid, bisa di identifikasi dengan optimal.


Salam dan Bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Media BK